Makanan Halal dan Haram

Di: Aqidah

Penulis: Redaksi Al Atsariyyah




بسم الله الرحمن الرحيم

Makanan Halal & Haram

Dari A Sampai Z

Termasuk di antara keluasan
dan kemudahan dalam syari'at
Islam, Allah -Subhanahu wa
Ta'ala- menghalalkan semua
makanan [1] yang mengandung
maslahat dan manfaat, baik yang
kembalinya kepada ruh maupun
jasad, baik kepada individu
maupun masyarakat. Demikian
pula sebaliknya Allah
mengharamkan semua makanan
yang memudhorotkan atau yang
mudhorotnya lebih besar
daripada manfaatnya. Hal ini
tidak lain untuk menjaga
kesucian dan kebaikan hati, akal,
ruh, dan jasad, yang mana baik
atau buruknya keempat perkara
ini sangat ditentukan -setelah
hidayah dari Allah- dengan
makanan yang masuk ke dalam
tubuh manusia yang kemudian
akan berubah menjadi darah dan
daging sebagai unsur penyusun
hati dan jasadnya. Karenanya
Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-
pernah bersabda:

أَيُّمَا لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى
لَهُ

"Daging mana saja yang tumbuh
dari sesuatu yang haram maka
neraka lebih pantas untuknya".

Makanan yang haram dalam Islam
ada dua jenis:

1. Ada yang diharamkan karena
dzatnya. Maksudnya asal dari
makanan tersebut memang
sudah haram, seperti: bangkai,
darah, babi, anjing, khamar, dan
selainnya.

2. Ada yang diharamkan karena
suatu sebab yang tidak
berhubungan dengan dzatnya.
Maksudnya asal makanannya
adalah halal, akan tetapi dia
menjadi haram karena adanya
sebab yang tidak berkaitan
dengan makanan tersebut.
Misalnya: makanan dari hasil
mencuri, upah perzinahan,
sesajen perdukunan, makanan
yang disuguhkan dalam acara-
acara yang bid'ah, dan lain
sebagainya.

Satu hal yang sangat penting
untuk diyakini oleh setiap muslim
adalah bahwa apa-apa yang
Allah telah halalkan berupa
makanan, maka disitu ada
kecukupan bagi mereka
(manusia) untuk tidak
mengkonsumsi makanan yang
haram.

[Muqaddimah Al-Luqothot fima
Yubahu wa Yuhramu minal
Ath'imah wal Masyrubat dan
muqaddimah Al-Ath'imah karya
Al-Fauzan]

Sebelum kita menyebutkan satu
persatu makanan dan minuman
yang disebutkan dalam Al-Qur`an
dan Sunnah beserta hukumnya
masing-masing, maka untuk lebih
membantu memahami
pembahasan, kami dahului
dengan beberapa pendahuluan.

* Pendahuluan Pertama: Asal dari
semua makanan adalah boleh
dan halal sampai ada dalil yang
menyatakan haramnya.

Allah -Ta'ala- berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ
جَمِيعًا

"Dia-lah Allah, yang menjadikan
segala yang ada di bumi untuk
kamu". (QS. Al-Baqarah: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa
segala sesuatu -termasuk
makanan- yang ada di bumi
adalah nikmat dari Allah, maka ini
menunjukkan bahwa hukum
asalnya adalah halal dan boleh,
karena Allah tidaklah
memberikan nikmat kecuali yang
halal dan baik.

Dalam ayat yang lain:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا
اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya Allah telah
menjelaskan kepada kamu apa
yang diharamkan-Nya atasmu,
kecuali apa yang terpaksa kamu
memakannya". (QS. Al-An'am: 119)

Maka semua makanan yang tidak
ada pengharamannya dalam
syari'at berarti adalah halal [2].

Faidah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
menyatakan, "Hukum asal
padanya (makanan) adalah halal
bagi seorang muslim yang
beramal sholeh, karena Allah -
Ta'ala- tidaklah menghalalkan
yang baik-baik kecuali bagi siapa
yang akan menggunakannya
dalam ketaatan kepada-Nya,
bukan dalam kemaksiatan
kepada-Nya. Hal ini berdasarkan
firman Allah Ta'ala:

لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا
اتَّقَوْا وَءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

"Tidak ada dosa bagi orang-
orang yang beriman dan
mengerjakan amalan yang saleh
karena memakan makanan yang
telah mereka makan dahulu,
apabila mereka bertakwa serta
beriman, dan mengerjakan
amalan-amalan yang saleh". (QS.
Al-Ma`idah: 93)

Karenanya tidak boleh menolong
dengan sesuatu yang mubah jika
akan digunakan untuk maksiat,
seperti memberikan daging dan
roti kepada orang yang akan
minum-minum khamar atau akan
menggunakannya dalam
kejelekan" [3].

* Pendahuluan Kedua: Manhaj
Islam dalam penghalalan dan
pengharaman makanan adalah
"Islam menghalalkan semua
makanan yang halal, suci, baik,
dan tidak mengandung
mudhorot, demikian pula
sebaliknya Islam mengharamkan
semua makanan yang haram,
najis atau ternajisi, khobits
(jelek), dan yang mengandung
mudhorot".

Manhaj ini ditunjukkan dalam
beberapa ayat, di antaranya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ
حَلَالًا طَيِّبًا

"Hai sekalian manusia, makanlah
yang halal lagi baik dari apa
yang terdapat di bumi". (QS. Al-
Baqarah: 168)

Dan Allah mensifatkan Nabi
Muhammad dalam firman-Nya:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ
الْخَبَائِثَ

"Dan menghalalkan bagi mereka
segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka
segala yang buruk". (QS. Al-A'raf:
157)

Allah melarang melakukan apa
saja -termasuk memakan
makanan- yang bisa
memudhorotkan diri, dalam
firman-Nya:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

"Dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke
dalam kebinasaan". (QS. Al-
Baqarah: 195)

Juga sabda Nabi -Shallallahu
'alaihi wasallam-:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

"Tidak boleh membahayakan diri
sendiri dan tidak boleh
membahayakan orang lain".

Karenanya diharamkan
mengkonsumsi semua makanan
dan minuman yang bisa
memudhorotkan diri -apalagi
kalau sampai membunuh diri-
baik dengan segera maupun
dengan cara perlahan. Misalnya:
racun, narkoba dengan semua
jenis dan macamnya, rokok, dan
yang sejenisnya.

Adapun makanan yang haram
karena diperoleh dari cara yang
haram, maka Rasulullah -
Shallallahu 'alaihi wasallam- telah
bersabda:

إِنَّ دِمَائَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ
عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

"Sesungguhnya darah-darah
kalian, harta-harta kalian, dan
kehormatan-kehormatan kalian
antara sesama kalian adalah
haram". (HR. Al-Bukhary dan
Muslim)

Faidah:

1. Makna makanan yang najis
adalah jelas, adapun makanan
yang ternajisi, contohnya adalah
mentega yang kejatuhan tikus.
Hukumnya sebagaimana yang
disebutkan dalam hadits
Maimunah -radhiallahu 'anha-
bahwa Nabi -Shallallahu 'alaihi
wasallam- ditanya tentang lemak
yang kejatuhan tikus, maka
beliau bersabda:

أُلْقُوْهَا, وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوْهُ، وَكُلُوْا
سَمَنَكُمْ

"Buanglah tikusnya dan buang
juga lemak yang berada di
sekitarnya lalu makanlah lemak
kalian". (HR. Al-Bukhary)

Jadi jika yang kejatuhan najis
adalah makanan padat, maka
cara membersihkannya adalah
dengan membuang najisnya dan
makanan yang ada di sekitarnya,
adapun sisanya boleh untuk
dimakan. Akan tetapi jika yang
kejatuhan najis adalah makanan
yang berupa cairan, maka
hukumnya dirinci; jika najis ini
merubah salah satu dari tiga
sifatnya (bau, rasa, dan warna)
maka makanannya dihukumi najis
sehingga tidak boleh dikonsumsi,
demikian pula sebaliknya.

2 . Makanan yang jelek (arab:
khobits) ada dua jenis; yang
jelek karena dzatnya -seperti:
darah, bangkai, dan babi- dan
yang jelek karena salah dalam
memperolehnya -seperti: hasil
riba dan perjudian-. Lihat Majmu'
Al-Fatawa (20 /334).

3. Adapun ukuran kapan suatu
makanan dianggap thoyyib (baik)
atau khobits (jelek), maka hal ini
dikembalikan kepada syari'at.
Maka apa-apa yang dihalalkan
oleh syari'at maka dia adalah
thoyyib dan apa-apa yang
diharamkan oleh syari'at maka
dia adalah khabits, ini adalah
madzhab Malikiyah dan yang
dikuatkan oleh Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah sebagaimana yang
akan nampak dalam ucapan
beliau.

Adapun jumhur ulama, mereka
mengatakan bahwa yang menjadi
ukuran dalam penentuannya
adalah orang-orang Arab,
karena kepada merekalah
asalnya diturunkan Al-Qur`an
sehingga mereka yang secara
langsung diajak bicara oleh
syari'at. Lihat Hasyiyah Ibni
'Abidin (5 /194 ), Al-Majmu' (9 /25-
26 ), dan Asy-Syarhul Kabir (11
/64).

Hanya saja ini (pendapat jumhur)
adalah pendapat yang kurang
kuat, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah berkata dalam
menjelaskan makna firman Allah -
Ta'ala-:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ
الطَّيِّبَاتُ

"Mereka menanyakan kepadamu:
"Apakah yang dihalalkan bagi
mereka?" Katakanlah: "Dihalalkan
bagimu yang baik-baik.". (QS. Al-
Maidah: 4)

Beliau berkata, "Seandainya
makna "yang baik" di sini adalah
apa yang dihalalkan, maka
tentunya kalimat ini tidak ada
faidahnya4. Maka dari sini
diketahuilah bahwa thoyyib dan
khobits adalah sifat yang berada
pada sebuah benda, dan bukan
yang diinginkan dengannya
(thoyyib) sekedar kelezatan
dalam memakannya. Karena
terkadang seorang manusia
menikmati (merasa lezat) dengan
apa yang membahayakan dirinya
yang berupa racun [5 ], atau
menikmati apa yang dilarang oleh
dokter [6]. Dan bukan pula yang
diinginkan darinya (thoyyib)
dengan merasa nikmatnya
sebagian bangsa -misalnya
bangsa Arab- terhadap suatu
makanan, dan bukan pula
dianggap thoyyib karena
keberadaannya sebagai makanan
yang biasa dimakan (dinikmati)
oleh orang-orang Arab. Hal itu
karena, keberadaan suatu
makanan biasa dimakan dan
disenangi oleh sebagian bangsa
atau sebaliknya mereka tidak
menyukainya karena makanan
itu tidak ada di negerinya,
(semua ini) tidaklah
mengharuskan Allah
mengharamkan sebuah makanan
kepada segenap kaum mu`minin
dengan alasan mereka (sebagian
bangsa) tidak terbiasa
dengannya sebagaimana tidak
mengharuskan Allah
menghalalkan suatu makanan
kepada segenap kaum mu`minin
dengan alasan mereka (sebagian
bangsa) terbiasa dengannya.
Bagaimana tidak, padahal orang-
orang Arab (dahulu) telah
terbiasa (menyukai) dengan
memakan darah, bangkai, dan
selainnya padahal semuanya
telah diharamkan oleh Allah -
Ta'ala-...... Demikian halnya
Quraisy, mereka memakan yang
khobits yang telah Allah
haramkan dan sebaliknya
mereka tidak menyukai
makanan-makanan yang Allah
tidak mengharamkannya". -Lalu
beliau membawakan hadits yang
menunjukkan Nabi tidak makan
biawak, bukan karena dia haram
akan tetapi karena beliau tidak
biasa memakannya [7]-. "Maka
dari sini jelaslah bahwa
ketidaksukaan suku Quraisy dan
selainnya (dari bangsa Arab)
terhadap sebuah makanan
tidaklah mengharuskan (baca:
menunjukkan) pengharaman
makanan tersebut atas segenap
kaum mu`minin baik yang Arab
maupun yang ajam (non-Arab).
Dan juga sesungguhnya Nabi -
Shallallahu 'alaihi wasallam- dan
para sahabat beliau, tidak
seorangpun di antara mereka
yang mengharamkan makanan
yang tidak disukai oleh orang
Arab dan sebaliknya tidak
pernah membolehkan apa yang
(biasa) dimakan oleh orang Arab"
[8].

* Pendahuluan Ketiga: Makanan
manusia secara umum ada dua
jenis:

1. Selain hewan, terdiri dari
tumbuh-tumbuhan, buah-buahan,
benda-benda (roti, kue dan
sejenisnya), dan yang berupa
cairan (air dengan semua
bentuknya).

Ibnu Hubairah -rahimahullah-
dalam Al-Ifshoh (2 /453) menukil
kesepakatan ulama akan
halalnya jenis ini kecuali yang
mengandung mudhorot.

2. Hewan, yang terdiri dari
hewan darat dan hewan air.

Hewan darat juga terbagi
menjadi dua;

1. Jinak, yaitu semua hewan
yang hidup di sekitar manusia
dan diberi makan oleh manusia,
seperti: hewan ternak

2. Liar, yaitu semua hewan yang
tinggal jauh dari manusia dan
tidak diberi makan oleh manusia,
baik dia buas maupun tidak.
Seperti: singa, kelinci, ayam
hutan, dan sejenisnya.

Hukum hewan darat dengan
kedua bentuknya adalah halal
kecuali yang diharamkan oleh
syari'at [9], yang rinciannya
insya Allah akan datang satu
persatu.

Hewan air juga terbagi menjadi
2:

1. Hewan yang hidup di air yang
jika dia keluar darinya akan
segera mati, contohnya adalah
ikan dan yang sejenisnya.

2 . Hewan yang hidup di dua alam,
seperti buaya dan kepiting [10].

Hukum hewan air bentuk yang
pertama, -menurut pendapat
yang paling kuat- adalah halal
untuk dimakan secara mutlak. Ini
adalah pendapat Al-Malikiyah dan
Asy-Syafi'iyah, mereka
berdalilkan dengan keumuman
dalil dalam masalah ini, di
antaranya adalah firman Allah -
Ta'ala-:

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

"Dihalalkan bagimu binatang
buruan laut dan makanan (yang
berasal) dari laut sebagai
makanan yang lezat bagimu" (QS.
Al-Ma`idah: 96)

Adapun bangkainya maka ada
rincian dalam hukumnya:

1 . Jika dia mati dengan sebab
yang jelas, misalnya: terkena
lemparan batu, disetrum, dipukul,
atau karena air surut, maka
hukumnya adalah halal
berdasarkan kesepakatan para
ulama. Lihat Al-Mughny ma'a Asy-
Syarhul Kabir (11 /195)

2. Jika dia mati tanpa sebab
yang jelas, hanya tiba-tiba
diketemukan mengapung di atas
air, maka dalam hukumnya ada
perselisihan. Yang kuat adalah
pendapat jumhur dari kalangan
Imam Empat kecuali Imam Malik,
mereka menyatakan bahwa
hukumnya tetap halal. Mereka
berdalilkan dengan keumuman
sabda Rasulullah -Shallallahu
'alaihi wasallam-:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ

"Dia (laut) adalah pensuci airnya
dan halal bangkainya". (HR. Abu
Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy,
dan Ibnu Majah dan dishohihkan
oleh Imam Al-Bukhary). Lihat At-
Talkhish (1 /9)

[Al-Bidayah (1 /345 ), Asy-Syarhul
Kabir (2 /115 ), Mughniyul Muhtaj
(4 /291 ), dan Al-Majmu' (9 /32 ,33 ),
Al-Mughny ma'a Asy-Syarhul
Kabir (11 /84 ,195]

Adapun bentuk yang kedua dari
hewan air, yaitu hewan yang
hidup di dua alam, maka
pendapat yang paling kuat
adalah pendapat Asy-Syafi'iyah
yang menyatakan bahwa seluruh
hewan yang hidup di dua alam -
baik yang masih hidup maupun
yang sudah jadi bangkai-
seluruhnya adalah halal kecuali
kodok. Dikecualikan darinya
kodok karena ada hadits yang
mengharamkannya [11 ]. Lihat Al-
Majmu' (9 /32-33)

Setelah memahami ketiga
pendahuluan di atas, maka
berikut penyebutan satu
persatu makanan yang dibahas
oleh para ulama beserta
hukumnya masing-masing:

1. Bangkai

Bangkai adalah semua hewan
yang mati tanpa penyembelihan
yang syar'iy dan juga bukan hasil
perburuan.

Allah -Subhanahu wa Ta'ala-
menyatakan dalam firman-Nya:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ
الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ
وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا
ذَكَّيْتُمْ

"Diharamkan bagimu (memakan)
bangkai, darah, daging babi,
(daging hewan) yang disembelih
atas nama selain Allah, yang
tercekik, yang dipukul, yang
jatuh, yang ditanduk, dan yang
diterkam binatang buas, kecuali
yang sempat kamu
menyembelihnya". (QS. Al-Ma`idah:
3)

Dan juga dalam firmannya:

وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ
عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

"Dan janganlah kamu memakan
binatang-binatang yang tidak
disebut nama Allah ketika
menyembelihnya. Sesungguhnya
perbuatan yang semacam itu
adalah suatu kefasikan". (QS. Al-
An'am: 121)

Jenis-jenis bangkai berdasarkan
ayat-ayat di atas:

1. Al-Munhaniqoh, yaitu hewan
yang mati karena tercekik.

2. Al-Mauqudzah, yaitu hewan
yang mati karena terkena
pukulan keras.

3. Al-Mutaroddiyah, yaitu hewan
yang mati karena jatuh dari
tempat yang tinggi.

4. An-Nathihah, yaitu hewan
yang mati karena ditanduk oleh
hewan lainnya.

5. Hewan yang mati karena
dimangsa oleh binatang buas.

6. Semua hewan yang mati tanpa
penyembelihan, misalnya
disetrum.

7. Semua hewan yang disembelih
dengan sengaja tidak membaca
basmalah.

8. Semua hewan yang disembelih
untuk selain Allah walaupun
dengan membaca basmalah.

9. Semua bagian tubuh hewan
yang terpotong/terpisah dari
tubuhnya. Hal ini berdasarkan
hadits Abu Waqid secara marfu':

مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ، فَهُوَ
مَيْتَةٌ

"Apa-apa yang terpotong dari
hewan dalam keadaan dia
(hewan itu) masih hidup, maka
potongan itu adalah bangkai".
(HR. Ahmad, Abu Daud, At-
Tirmidzy dan dishohihkan
olehnya)

Diperkecualikan darinya 3
bangkai, ketiga bangkai ini halal
dimakan:

1. Ikan, karena dia termasuk
hewan air dan telah berlalu
penjelasan bahwa semua hewan
air adalah halal bangkainya
kecuali kodok.

2. Belalang. Berdasarkan hadits
Ibnu 'Umar secara marfu':

أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا
الْمَيْتَتَانِ: فَالسَّمَكُ وَالْجَرَادُ, وَأَمَّا
الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

"Dihalalkan untuk kita dua
bangkai dan dua darah. Adapun
kedua bangkai itu adalah ikan
dan belalang. Dan adapun kedua
darah itu adalah hati dan limfa".
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

3. Janin yang berada dalam
perut hewan yang disembelih. Hal
ini berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad
dan Ashhabus Sunan kecuali An-
Nasa`iy, bahwa Nabi -Shallallahu
'alaihi wasallam- bersabda:

ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ

"Penyembelihan untuk janin
adalah penyembelihan induknya".

Maksudnya jika hewan yang
disembelih sedang hamil, maka
janin yang ada dalam perutnya
halal untuk dimakan tanpa harus
disembelih ulang.

[Al-Luqothot fima Yubahu wa
Yuhramu minal Ath'imah wal
Masyrubat point pertama]

2. Darah.

Yakni darah yang mengalir dan
terpancar. Hal ini dijelaskan
dalam surah Al-An'am ayat 145:

أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا

"Atau darah yang mengalir".

Dikecualikan darinya hati dan
limfa sebagaimana ditunjukkan
dalam hadits Ibnu 'Umar yang
baru berlalu. Juga dikecualikan
darinya darah yang berada
dalam urat-urat setelah
penyembelihan.

3. Daging babi.

Telah berlalu dalilnya dalam
surah Al-Ma`idah ayat ketiga di
atas. Yang diinginkan dengan
daging babi adalah mencakup
seluruh bagian-bagian tubuhnya
termasuk lemaknya.

4. Khamar.

Allah -Subhanahu wa Ta'ala-
berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ
وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ
مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ

"Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya (meminum)
khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib
dengan panah, adalah perbuatan
keji termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan.". (QS.
Al-Ma`idah: 90

Dan dalam hadits riwayat Muslim
dari Ibnu 'Umar -radhiallahu
'anhuma- secara marfu':

كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

"Semua yang memabukkan
adalah haram, dan semua
khamar adalah haram".

Dikiaskan dengannya semua
makanan dan minuman yang bisa
menyebabkan hilangnya akal
(mabuk), misalnya narkoba
dengan seluruh jenis dan
macamnya.

5. Semua hewan buas yang
bertaring.

Sahabat Abu Tsa'labah Al-
Khusyany -radhiallahu 'anhu-
berkata:

أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم
نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ

"Sesungguhnya Rasulullah -
Shallallahu 'alaihi wasallam-
melarang dari (mengkonsumsi)
semua hewan buas yang
bertaring". (HR. Al-Bukhary dan
Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim
darinya dengan lafazh, "Semua
hewan buas yang bertaring
maka memakannya adalah
haram".

Yang diinginkan di sini adalah
semua hewan buas yang
bertaring dan menggunakan
taringnya untuk menghadapi dan
memangsa manusia dan hewan
lainnya. Lihat Al-Ifshoh (1 /457 )
dan I'lamul Muwaqqi'in (2 /117).

Jumhur ulama berpendapat
haramnya berlandaskan hadits di
atas dan hadits-hadits lain yang
semakna dengannya.

[Asy-Syarhul Kabir (11 /66 ),
Mughniyul Muhtaj (4 /300 ), dan
Syarh Tanwiril Abshor ma'a
Hasyiyati Ibnu 'Abidin (5 /193)]

6. Semua burung yang memiliki
cakar.

Yang diinginkan dengannya
adalah semua burung yang
memiliki cakar yang kuat yang
dia memangsa dengannya,
seperti: elang dan rajawali.
Jumhur ulama dari kalangan
Imam Empat -kecuali Imam Malik-
dan selainnya menyatakan
pengharamannya berdasarkan
hadits Ibnu 'Abbas -radhiallahu
'anhuma-:

نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ،
وَكُلُّ ذِيْ مَخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ

"Beliau (Nabi) melarang untuk
memakan semua hewan buas
yang bertaring dan semua
burung yang memiliki cakar". (HR.
Muslim)

[Al-Majmu' (9 /22 ), Al-Muqni' (3
/526 ,527 ), dan Takmilah Fathil
Qodir (9 /499)]

7. Jallalah.

Dia adalah hewan pemakan feses
(kotoran) manusia atau hewan
lain, baik berupa onta, sapi, dan
kambing, maupun yang berupa
burung, seperti: garuda, angsa
(yang memakan feses), ayam
(pemakan feses), dan sebagian
gagak. Lihat Nailul Author (8
/128).

Hukumnya adalah haram. Ini
merupakan pendapat Imam
Ahmad -dalam satu riwayat- dan
salah satu dari dua pendapat
dalam madzhab Syafi'iyah,
mereka berdalilkan dengan
hadits Ibnu 'Umar -radhiallahu
'anhuma- beliau berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم
عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا

"Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wasallam- melarang dari
memakan al-jallalah dan dari
meminum susunya". (HR. Imam
Lima kecuali An-Nasa`iy (3787))

Beberapa masalah yang
berkaitan dengan jallalah:

1 . Tidak semua hewan yang
memakan feses masuk dalam
kategori jallalah yang
diharamkan, akan tetapi yang
diharamkan hanyalah hewan
yang kebanyakan makanannya
adalah feses dan jarang
memakan selainnya. Dikecualikan
juga semua hewan air pemakan
feses, karena telah berlalu
bahwa semua hewan air adalah
halal dimakan. Lihat Hasyiyatul
Al-Muqni' (3 /529).

2 . Jika jallalah ini dibiarkan
sementara waktu hingga isi
perutnya bersih dari feses maka
tidak apa-apa memakannya
ketika itu. Hanya saja mereka
berselisih pendapat mengenai
berapa lamanya dia dibiarkan,
dan yang benarnya dikembalikan
kepada ukuran adat kebiasaan
atau kepada sangkaan besar.
Lihat Al-Majmu' (9 /28).

[Al-Muqni' (3 /527 ,529 ), Mughniyul
Muhtaj (4 /304 ), dan Takmilah
Fathil Qodir (9 / 499-500 )]

8. Keledai jinak (bukan yang liar).

Ini merupakan madzhab Imam
Empat kecuali Imam Malik dalam
sebagian riwayat darinya. Dari
Anas bin Malik -radhiallahu 'anhu-
, bahwasanya Rasulullah -
Shallallahu 'alaihi wasallam-
bersabda:

إِنَّ الله ورسوله يَنْهَيَاكُمْ عَنْ لُحُوْمِ
ِالْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا رِجْسٌ

"Sesungguhnya Allah dan Rasul-
Nya melarang kalian untuk
memakan daging-daging keledai
yang jinak, karena dia adalah
najis". (HR. Al-Bukhary dan
Muslim)

Diperkecualikan darinya keledai
liar, karena Jabir -radhiallahu
'anhu- berkata:

أَكَلْنَا زَمَنَ خَيْبَرٍ اَلْخَيْلَ وَحُمُرَ
الْوَحْشِ ، وَنَهَانَا النبي صلى الله عليه
وسلم عَنِ الْحِمَارِ الْأَهْلِيْ

"Saat (perang) Khaibar, kami
memakan kuda dan keledai liar,
dan Nabi -Shallallahu 'alaihi
wasallam- melarang kami dari
keledai jinak". (HR. Muslim)

Inilah pendapat yang paling kuat,
sampai-sampai Imam Ibnu 'Abdil
Barr menyatakan, "Tidak ada
perselisihan di kalangan ulama
zaman ini tentang
pengharamannya". Lihat Al-
Mughny beserta Asy-Syarhul
Kabir (11 /65).

[Al-Bada`i' (5 /37 ), Mughniyul
Muhtaj (4 /299 ), Al-Muqni' (3 /525
), dan Al-Bidayah (1 /344].

9. Kuda.

Telah berlalu dalam hadits Jabir
bahwasanya mereka memakan
kuda saat perang Khaibar.
Semakna dengannya ucapan
Asma` bintu Abi Bakr -radhiallahu
'anhuma-:

نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رسول الله
صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَاهُ

"Kami menyembelih kuda di
zaman Rasulullah -Shallallahu
'alaihi wasallam- lalu kamipun
memakannya". (HR. Al-Bukhary
dan Muslim)

Maka ini adalah sunnah
taqririyyah (persetujuan) dari
Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-.

Ini adalah pendapat jumhur
ulama dari kalangan Asy-
Syafi'iyyah, Al-Hanabilah, salah
satu pendapat dalam madzhab
Malikiyah, serta merupakan
pendapat Muhammad ibnul Hasan
dan Abu Yusuf dari kalangan
Hanafiyah. Dan ini yang
dikuatkan oleh Imam Ath-
Thohawy sebagaimana dalam
Fathul Bary (9 /650 ) dan Imam
Ibnu Rusyd dalam Al-Bidayah (1
/3440).

[Mughniyul Muhtaj (4 / 291-291 ),
Al-Muqni' beserta hasyiyahnya (3
/528 ), Al-Bada`i' (5 /18 ), dan Asy-
Syarhus Shoghir (2 /185)]

10. Baghol.

Dia adalah hewan hasil
peranakan antara kuda dan
keledai. Jabir -radhiallahu
'anhuma- berkata:

حَرَّمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم
- يَعْنِي يَوْمَ خَيْبَرٍٍ - لُحُوْمَ الْحُمُرِ
الْإِنْسِيَّةِ، وَلُحُوْمَ الْبِغَالِ

"Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wasallam- mengharamkan -yakni
saat perang Khaibar- daging
keledai jinak dan daging baghol.
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzy)

Dan ini (haram) adalah hukum
untuk semua hewan hasil
peranakan antara hewan yang
halal dimakan dengan yang
haram dimakan.

[Al-Majmu' (9 /27 ), Ays-Syarhul
Kabir (11 /75 ), dan Majmu' Al-
Fatawa (35 /208)].

11. Anjing.

Para ulama sepakat akan
haramnya memakan anjing, di
antara dalil yang menunjukkan
hal ini adalah bahwa anjing
termasuk dari hewan buas yang
bertaring yang telah berlalu
pengharamannya. Dan telah
tsabit dari Nabi -Shallallahu 'alaihi
wasallam- bahwa beliau
bersabda:

إِنَّ الله إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ

"Sesungguhnya Allah jika
mengharamkan sesuatu maka Dia
akan mengharamkan harganya
[12]".

Dan telah tsabit dalam hadits
Abu Mas'ud Al-Anshory riwayat
Al-Bukhary dan Muslim dan juga
dari hadits Jabir riwayat Muslim
akan haramnya
memperjualbelikan anjing.

[Al-Luqothot point ke-12]

12. Kucing baik yang jinak
maupun yang liar.

Jumhur ulama menyatakan
haramnya memakan kucing
karena dia termasuk hewan
yang bertaring dan memangsa
dengan taringnya. Pendapat ini
yang dikuatkan oleh Syaikh Al-
Fauzan. Dan juga telah warid
dalam hadits Jabir riwayat Imam
Muslim akan larangan
meperjualbelikan kucing,
sehingga hal ini menunjukkan
haramnya.

[Al-Majmu' (9 /8 ) dan Hasyiyah Ibni
'Abidin (5 /194)]

13. Monyet.

Ini merupakan madzhab Syafi'iyah
dan merupakan pendapat dari
'Atho`, 'Ikrimah, Mujahid, Makhul,
dan Al-Hasan. Imam Ibnu Hazm
menyatakan, "Dan monyet
adalah haram, karena Allah -
Ta'ala- telah merubah
sekelompok manusia yang
bermaksiat (Yahudi) menjadi babi
dan monyet sebagai hukuman
atas mereka. Dan setiap orang
yang masih mempunyai panca
indra yang bersih tentunya bisa
memastikan bahwa Allah -Ta'ala-
tidaklah merubah bentuk (suatu
kaum) sebagai hukuman (kepada
mereka) menjadi bentuk yang
baik dari hewan, maka jelaslah
bahwa monyet tidak termasuk
ke dalam hewan-hewan yang
baik sehingga secara otomatis
dia tergolong hewan yang
khobits (jelek)" [13].

[Al-Luqothot point ke-13]

14. Gajah.

Madzhab jumhur ulama
menyatakan bahwa dia termasuk
ke dalam kategori hewan buas
yang bertaring. Dan inilah yang
dikuatkan oleh Imam Ibnu 'Abdil
Barr, Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah,
dan Imam An-Nawawy -
rahimahumullah-.

[Al-Luqothot point ke-14]

15. Musang (arab: tsa'lab)

Halal, karena walaupun bertaring
hanya saja dia tidak
mempertakuti dan memangsa
manusia atau hewan lainnya
dengan taringnya dan dia juga
termasuk dari hewan yang baik
(arab: thoyyib). Ini merupakan
madzhab Malikiyah, Asy-
Syafi'iyah, dan salah satu dari
dua riwayat dari Imam Ahmad.

[Mughniyul Muhtaj (4 /299 ), Al-
Muqni' (3 /528 ), dan Asy-Syarhul
Kabir (11 /67)]

16. Hyena/kucing padang pasir
(arab: Dhib'un)

Pendapat yang paling kuat di
kalangan ulama -dan ini
merupakan pendapat Imam Asy-
Syafi'iy dan Imam Ahmad- adalah
halal dan bolehnya memakan
daging hyena. Hal ini
berdasarkan hadits
'Abdurrahman bin 'Abdillah bin Abi
'Ammar, beliau berkata, "Saya
bertanya kepada Jabir, "apakah
hyena termasuk hewan
buruan?", beliau menjawab, "iya".
Saya bertanya lagi, "apakah
boleh memakannya?", beliau
menjawab, "boleh". Saya kembali
bertanya, "apakah pembolehan
ini telah diucapkan oleh
Rasulullah?", beliau menjawab,
"iya"". Diriwayatkan oleh Imam
Lima [14] dan dishohihkan oleh
Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan
selainnya. Lihat Talkhishul Khabir
(4 /152).

Pendapat ini yang dikuatkan oleh
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-
Fath (9 /568) dan Imam Asy-
Syaukany.

Adapun jika ada yang
menyatakan bahwa hyena
adalah termasuk hewan buas
yang bertaring, maka kita jawab
bahwa hadits Jabir di atas lebih
khusus daripada hadits yang
mengharamkan hewan buas yang
bertaring sehingga hadits yang
bersifat khusus lebih
didahulukan. Atau dengan kata
lain hyena diperkecualikan dari
pengharaman hewan buas yang
bertaring. Lihat Nailul Author (8
/127 ) dan I'lamul Muwaqqi'in (2
/117).

[Mughniyul Muhtaj (4 /299 ) dan
Al-Muqni' (3 /52)]

17. Kelinci.

Berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Al-
Bukhary dan Imam Muslim dari
Anas bin Malik -radhiallahu 'anhu-
:

أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أُهْدِيَ لَهُ
عَضْوٌ مِنْ أَرْنَبٍ، فَقَبِلَهُ

"Sesungguhnya beliau (Nabi) -
Shallallahu 'alaihi wasallam-
pernah diberikan hadiah berupa
potongan daging kelinci, maka
beliaupun menerimanya".

Imam Ibnu Qudamah berkata
dalam Al-Mughny, "Kami tidak
mengetahui ada seorangpun
yang mengatakan haramnya
(kelinci) kecuali sesuatu yang
diriwayatkan dari 'Amr ibnul
'Ash".

[Al-Luqothot point ke-16]

18. Belalang.

Telah berlalu dalam hadits Ibnu
'Umar bahwa bangkai belalang
termasuk yang diperkecualikan
dari bangkai yang diharamkan.
Hal ini juga ditunjukkan oleh
perkataan Anas bin Malik -
radhiallahu 'anhu-:

غَزَوْنََا مَعَ رسول الله صلى الله عليه
وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ

"Kami berperang bersama
Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wasallam- sebanyak 7
peperangan sedang kami hanya
memakan belalang". (HR. Al-
Bukhary dan Muslim)

[Al-Luqothot point ke-17]

19 . Kadal padang pasir (arab:
dhobbun [15]).

Pendapat yang paling kuat yang
merupakan madzhab Asy-
Syafi'iyah dan Al-Hanabilah
bahwa dhabb adalah halal
dimakan, hal ini berdasarkan
sabda Nabi -Shallallahu 'alaihi
wasallam- tentang biawak:

كُلُوْا وَأَطْعِمُوْا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ

"Makanlah dan berikanlah makan
dengannya (dhabb) karena
sesungguhnya dia adalah halal".
(HR. Al-Bukhary dan Muslim dari
hadits Ibnu 'Umar)

Adapun keengganan Nabi untuk
memakannya, hanyalah
dikarenakan dhabb bukanlah
makanan beliau, yakni beliau
tidak biasa memakannya. Hal ini
sebagaimana yang beliau
khabarkan sendiri dalam
sabdanya:

لاَ بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي

"Tidak apa-apa, hanya saja dia
bukanlah makananku".

Ini yang dikuatkan oleh Imam An-
Nawawy dalam Syarh Muslim (13
/97).

[Mughniyul Muhtaj (4 /299 ) dan
Al-Muqni' (3 /529)]

20. Landak.

Syaikh Al-Fauzan menguatkan
pendapat Asy-Syafi'iyyah akan
boleh dan halalnya karena tidak
ada satupun dalil yang
menyatakan haram dan
khobitsnya. Lihat Al-Majmu' (9
/10).

21. Ash-shurod, kodok, semut,
burung hud-hud, dan lebah.

Kelima hewan ini haram dimakan,
berdasarkan hadits Abu Hurairah
-radhiallahu 'anhu-, beliau
berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم
عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ
وَالْهُدْهُدِ

"Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wasallam- melarang membunuh
shurod, kodok, semut, dan hud-
hud. (HR. Ibnu Majah dengan
sanad yang shohih).

Adapun larangan membunuh
lebah, warid dalam hadits Ibnu
'Abbas yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan Abu Daud.

Dan semua hewan yang haram
dibunuh maka memakannyapun
haram. Karena tidak mungkin
seeokor binatang bisa dimakan
kecuali setelah dibunuh.

[Al-Luqothot point ke-19 s/d 23]

22. Yarbu'.

Halal. Ini merupakan madzhab
Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah,
dan merupakan pendapat
'Urwah, 'Atho` Al-Khurosany, Abu
Tsaur, dan Ibnul Mundzir, karena
asal dari segala sesuatu adalah
halal, dan tidak ada satupun dalil
yang menyatakan haramnya
yarbu' ini. Inilah yang dikuatkan
oleh Imam Ibnu Qudamah dalam
Al-Mughny (11 /71).

[Hasyiyatul Muqni' (3 /528 ) dan
Mughniyul Muhtaj (4 /299)]

23. Kalajengking, ular, gagak,
tikus, tokek, dan cicak.

Karena semua hewan yang
diperintahkan untuk dibunuh
tanpa melalui proses
penyembelihan adalah haram
dimakan, karena seandainya
hewan-hewan tersebut halal
untuk dimakan maka tentunya
Nabi tidak akan mengizinkan
untuk membunuhnya kecuali
lewat proses penyembelihan
yang syar'iy.

Rasulullah -Shallallahu 'alaihi
wasallam- bersabda:

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فَي الْحِلِّ
وَالْحَرَمِ: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْاَبْقَعُ
وَالْفَأْرَةُ وَالٍْكَلْبُ وَالْحُدَيَّا

"Ada lima (binatang) yang fasik
(jelek) yang boleh dibunuh baik
dia berada di daerah halal (selain
Mekkah) maupun yang haram
(Mekkah): Ular, gagak yang
belang, tikus, anjing, dan rajawali
(HR. Muslim)

Adapun tokek dan -wallahu
a'lam- diikutkan juga kepadanya
cicak, maka telah warid dari
hadits Abu Hurairah riwayat
Imam Muslim tentang anjuran
membunuh wazag (tokek).

[Bidayatul Mujtahid (1 /344 ) dan
Tafsir Asy-Syinqithy (1 /273)]

24. Kura-kura (arab: salhafat),
anjing laut, dan kepiting (arab:
sarthon).

Telah berlalu penjelasannya pada
pendahuluan yang ketiga bahwa
ketiga hewan ini adalah halal
dimakan.

[Al-Luqothot point ke-28 s/d 30]

25. Siput (arab: halazun) darat,
serangga kecil, dan kelelawar.

Imam Ibnu Hazm menyatakan,
"Tidak halal memakan siput
darat, juga tidak halal memakan
seseuatupun dari jenis serangga,
seperti: tokek (masuk juga
cicak), kumbang, semut, lebah,
lalat, cacing, kutu, nyamuk dan
yang sejenis dengan mereka,
berdasarkan firman Allah -Ta'ala-
, "Diharamkan untuk kalian
bangkai", dan firman Allah -
Ta'ala-, "Kecuali yang kalian
sembelih". Dan telah jelas dalil
yang menunjukkan bahwa
penyembelihan pada hewan yang
bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah
teranggap secara syar'iy kecuali
jika dilakukan pada tenggorokan
atau dadanya. Maka semua
hewan yang tidak ada cara
untuk bisa menyembelihnya,
maka tidak ada cara/jalan untuk
memakannya, sehingga
hukumnya adalah haram karena
tidak bisa dimakan, kecuali
bangkai yang tidak disembelih"
[16].

[Al-Luqothot point ke-31 s/d 34]

Inilah secara ringkas penyebutan
beberapa kaidah dalam masalah
penghalalan dan pengharaman
makanan beserta contoh-
contohnya semoga bisa
bermanfaat. Penyebutan
makanan sampai point ke-25 di
atas bukanlah dimaksudkan
untuk membatasi bahwa
makanan yang haram jumlahnya
hanya sekitar itu, akan tetapi
yang kami inginkan dengannya
hanyalah menjelaskan kaidah
umum dalam masalah ini yang
bisa dijadikan sebagai tolak ukur
dalam menghukumi hewan-hewan
lain yang tidak sempat kami
sebutkan.

Adapun makanan selain hewan
dan juga minuman, maka
hukumnya telah kami terangkan
secara global dalam
pendahuluan-pendahuluan di
awal pembahasan, yang mana
pendahuluan-pendahuluan ini
adalah semacam kaidah untuk
menghukumi semuanya, wallahul
muwaffiq.

Footnote :

1 . Arab:tho'am, kata yang
mencakup di dalamnya makanan
dan minuman. Lihat Tahdzibul
Asma' (2 /186)

2 . Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyyah
21 /135

3 . Al-Ikhtiyarot hal 321

4. Yakni karena berarti ayatnya
akan bermakna : "dihalalkan bagi
kalian yang halal", sehingga
kalimatnya tidak memiliki faidah
tambahan

5. Seperti : narkoba dengan
semua jenisnya, rokok dan
selainnya

6. Yakni untuk kesembuhannya
dari sebuah penyakit

7 . Akan datang haditsnya pada
point ke 19

8 . Majmu' Al Fatawa (17 / 178-180 )
dan al-Ikhtiyarot hal 321

9 . Manhajus Salikin hal 52

10 . Lihat pembagian ini dalam
Tafsir Al-Qurthuby 6 /318 dan Al-
Majmu' 9 /31-32

11 . Akan datang dalil
pengharamannya pada
penyebutan makanan yang ke
21

12. Maksudnya diharamkan
menjualnya, menyewanya, dan
seterusnya dari bentuk tukar-
menukar harga

13 . Al Muhalla 7 /429

14. Mereka adalah Imam Ahmad,
Abu Daud, An-Nasa'iy, At-Timirdzi
dan Ibnu Majah

15. Termasuk kekeliruan dari
sebagian orang ketika
menerjemahkan dhib'un dengan
biawak, padahal keduanya
berbeda. Biawak termasuk
hewan yang diharamkan untuk
dimakan. Wallahu a'lam.

16 . Al-Muhalla 7 /405

Referensi:

1 . Al-Ath'imah wa Ahkamis Shoyd
wadz Dzaba`ih, karya Syaikh Al-
Fauzan, cet. I th. 1408 H/1988 M,
penerbit: Maktabah Al-Ma'arif
Ar-Riyadh.

2 . Al-Majmu', Imam An-Nawawy,
Cet. Terakhir, th. 1415 H/1995 M,
penerbut: Dar Ihya`ut Turots Al-
Araby.

3 . Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd
Al-Maliky, cet. X, th. 1408 H/1988
M, penerbit: Darul Kutubil 'Ilmiyah.

4. Al-Luqothot fima Yubahu wa
Yuhramu minal Ath'imah wal
Masyrubat, karya Muhammad bin
Hamd Al-Hamud An-Najdy.

(Sumber http://al-
atsariyyah.com/?p=307, http://al-
atsariyyah.com/wp-
content/uploads/2008
/10/makanan.doc. )


Silahkan menyalin &
memperbanyak artikel ini dengan
mencantumkan url sumbernya.

Sumber artikel :
http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1562

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

2 tanggapan untuk "Makanan Halal dan Haram"

Poker Spielen pada 12:47, 13-Sep-10

Took me time to read the whole article, the article is great but the comments bring more brainstorm ideas, thanks.

- Johnson

Budi pada 23:35, 08-Jan-11

Jadi darah tuh haram ya. Padahal di kota ku sdh jelas2 mayor muslim tp kok di warung2 bnyk yg ngejual dideh sapi goreng ya.

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar