pembunuhan mirip sengaja

Di: Fiqih

Pembunuhan Mirip
Sengaja


Pada edisi terdahulu, telah
dijelaskan dua jenis
pembunuhan: disengaja dan tidak disengaja. Ada jenis ketiga yang memiliki
kemiripan dengan pembunuhan disengaja dan
yang tidak sengaja. Jenis ini
dinamakan para ulama syariat
dengan qatlu syibhi al-amd
(pembunuhan mirip
disengaja).


Definisi Qatlu Syibhi
al-’Amd (Pembunuhan
Mirip Sengaja)


Para ahli fikih mendefinisikan
pembunuhan mirip disengaja
ini dengan kesengajaan
berbuat kejahatan kepada
korban dengan cara atau alat
yang umumnya tidak membunuh. [1] Dengan demikian, yang
dimaksud syibhu al-amd
(pembunuhan yang mirip
sengaja) ialah seorang
mukalaf bermaksud
membunuh orang yang terlindungi darahnya dengan
cara dan alat yang biasanya
tidak membunuh. Hal ini bisa
jadi karena bermaksud
mencelakakannya atau
bermaksud menghajarnya, seperti memukul dengan
cambuk, tongkat, batu kecil,
atau dengan tangan, dan
dengan seluruh cara atau alat
yang tidak membunuh secara
umumnya. Jenis ini, dalam bahasa Arab,
disebut juga amdul khatha
dan khatha’ al-’amd, karena
bersatunya kesengajaan dan
ketidaksengajaan padanya. Contoh Pembunuhan Mirip
Sengaja Di antara contoh pembunuhan
mirip sengaja ini adalah
seorang memukul orang lain
di bagian yang tidak
mematikan, dengan
menggunakan cambuk atau tongkat, atau menonjok dan
meninju dengan tangannya, di
daerah yang tidak
mematikan. Lalu, ternyata
orang yang dipukul tersebut
mati. Dasar Penetapan Jenis Ini Jenis ini diambil dari sunnah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, di antaranya adalah
hadits Abdullah bin ‘Amr
radhiyallahu ‘anhu dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah bahwa diyat
pembunuhan yang mirip
dengan sengaja –yang
dilakukan dengan cambuk
dan tongkat– adalah seratus
ekor unta. Di antaranya empat puluh ekor yang sedang
hamil.” [2] Kemiripan Dengan Dua
Jenis Pembunuhan yang
Terdahulu Dari definisi di atas, jelaslah
bahwa pembunuhan yang
mirip dengan sengaja (syibhu
al-amd) ini tidak termasuk
disengaja dan tidak juga
karena keliru (al-khatha), tetapi pertengahan di antara
keduanya. Seandainya kita
melihat kepada niat
kesengajaan untuk
membunuhnya, maka ia
termasuk dalam pembunuhan yang disengaja. Namun, bila
kita melihat jenis
perbuatannya yang tidak
membunuh, maka kita
memasukkannya ke dalam
jenis pembunuhan karena keliru (al-khatha). Oleh
karenanya, para ulama
memasukkannya kedalam
satu tingkatan di antara
keduanya dan
menamakannya syibhu al- amdi. [3] Sehingga jenis ini memiliki
kemiripan dengan dua jenis
pembunuhan lainnya dari satu
sisi dan berbeda dari sisi
lainnya. Kesamaan dan Perbedaan
dengan pembunuhan
dengan sengaja Pembunuhan mirip sengaja
memiliki persamaan dengan
pembunuhan yang disengaja
dari sisi proses
pembunuhannya, yaitu
keinginan untuk mencelakakan korban.
Adapun perbedaannya
terletak pada: 1. Jenis tujuan mencelakakan
korban. Dalam pembunuhan
sengaja, pembunuh sengaja
bermaksud membunuhnya,
sedangkan dalam
pembunuhan mirip sengaja ini pembunuh hanya sengaja
mencelakakannya saja tanpa
ada niat untuk
membunuhnya. 2. Alat yang digunakan dalam
pembunuhan sengaja
umumnya adalah senjata
yang membunuh, sedangkan
dalam pembunuhan mirip
sengaja senjata yang digunakan umumnya tidak
membunuh. Dari sini jelaslah garis pemisah
yang sangat jelas antara
keduanya adalah penggunaan
senjata, karena niat dan
kesengajaan merupakan
perkara hati yang sulit diketahui dengan pasti. Ibnu Rusyd rahimahullah
dalam menjelaskan jenis
pembunuhan mirip sengaja ini
dengan menyatakan,
“Barangsiapa yang bermaksud
memukul seseorang dengan alat atau senjata yang tidak
membunuh, maka hukumnya
ada di antara pembunuhan di
sengaja dan pembunuhan
tidak sengaja. Karenanya,
pembunuhan mirip sengaja ini serupa dengan pembunuhan
sengaja dari sisi niat dan
tujuan memukulnya, serta
serupa dengan pembunuhan
tidak sengaja dari sisi
memukul si korban dengan sesuatu yang tidak
membunuh.” [4] Syekh Abdurrahman as-Sa’di
menyatakan, “Kesamaan
antara pembunuhan disengaja
dengan mirip sengaja terletak
pada keinginan untuk
mencelakakan korban, dan pembunuhan disengaja
dikhususkan (dari mirip
sengaja) dengan adanya
kesengajaan untuk
mencelakkan korban dengan
cara yang hampir dapat dipastikan bisa membunuh
korban.” [5] Kesamaan dan
Perbedaannya dengan
Pembunuhan Tidak
Sengaja Pembunuhan mirip sengaja
memiliki persamaan dengan
pembunuhan tidak sengaja
dalam satu hal, yaitu
keduanya tidak bermaksud
membunuh korban, serta memiliki perbedaan dalam dua
perkara: 1. Pembunuhan mirip sengaja
memiliki niat untuk
mencelakakan korban,
sedangkan pembunuhan tidak
sengaja tidak demikian. 2. Alat atau senjata yang
digunakan dalam
pembunuhan mirip sengaja
tidak boleh yang bersifat
membunuh. Adapun
pembunuhan tidak sengaja bisa jadi menggunakan
senjata yang membunuh,
seperti senapan atau pistol,
dan bisa juga yang tidak
membunuh secara umumnya. Hukumnya Pembunuhan mirip sengaja ini
diharamkan, karena termasuk
sikap melampaui batas
(aniaya) dan zalim, padahal
Allah berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah
orang-orang yang
memerangimu, (tetapi)
janganlah kamu melampaui
batas, karena sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang- orang yang melampaui
batas.” (Qs. al-Baqarah: 190) Konsekuensi Hukum Qisas tidak diberlakukan pada
pembunuhan mirip sengaja ini.
Akan tetapi, terdapat dua
konsekuensi hukum yang
wajib ditunaikan oleh
pelakunya: 1. Kewajiban membayar diyat
yang berat. Ini termasuk hak
keluarga ahli waris korban,
dengan ukuran sama seperti
diyat pembunuhan sengaja.
Bedanya, diyat ditanggung oleh kerabat pembunuh dan
dapat dicicil selama tiga tahun.
Diyat ini diserahkan kepada
ahli waris korban sesuai
dengan bagiannya masing-
masing. Apabila sebagian mereka memaafkan atau
seluruhnya memaafkan, maka
gugurlah kewajiban
membayar diyat sesuai
dengan kadar nilai diyat yang
dimaafkan. 2. Kewajiban membayar
kafarat. Ini adalah hak Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang
tidak digugurkan dengan
pengampunan ahli waris.
Kafaratnya adalah dengan membebaskan budak muslim,
dan bila tidak ada maka
kafaranya adalah berpuasa
dua bulan berturut-turut. Dengan demikian,
pembunuhan mirip sengaja ini
memiliki konsekuensi hukum
yang sama dengan
pembunuhan tidak sengaja,
dengan perbedaan dalam ukuran besarnya diyat. Syekh Shalih bin Abdillah al-
Fauzan hafizahullah
menegaskan bahwa pada
pembunuhan mirip sengaja,
pembunuh diwajibkan
membayar kafarat dari hartanya berupa pembebasan
budak. Apabila ia tidak dapat
membebaskan budak, maka
kafaratnya adalah berpuasa
dua bulan berturut-turut
sebagaimana pada pembunuhan tidak disengaja.
Diwajibkan pula atasnya
untuk membayar diyat
sebesar diyat pembunuhan
disengaja, yang dibebankan
kepada ‘aqilah (kerabatnya), berdasarkan hadits Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu
yang berbunyi, “Dua orang wanita dari Suku
Hudzail saling berperang, lalu
salah seorang dari mereka
melempar batu kepada yang
satunya, kemudian
membunuh wanita yang dilempari dan juga membunuh
janin di kandungannya.
Kemudian, kaum mereka
memperadilkannya kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
memutuskan kewajiban
membayar diyat (karena
terbunuhnya) si janin berupa
ghurrah budak laki-laki atau
wanita, serta kewajiban membayar diyat karena
terbunuhnya si korban
wanita tersebut dibebankan
kepada kerabat si wanita
pembunuh. Kemudian, anak
dan kerabat korban yang bersamanya mewarisi diyat
tersebut.” (Muttafaqun ‘alaihi) Syekh Shalih bin Abdillah al-
Fauzan hafizahullah
menyatakan, “Hadits ini
menunjukkan tidak adanya
qisas dalam pembunuhan
mirip sengaja, dan diyatnya ditanggung kerabat si
pembunuh. Alasannya, karena
itu adalah pembunuhan yang
tidak menuntut adanya qisas,
sehingga diyatnya ditanggung
kerabatnya seperti pembunuhan tidak
disengaja.” [6] Ibnu al-Mundzir rahimahullah
menyatakan, “Para ulama
yang kami hapal telah
berijma’ bahwa diyat
ditanggung oleh kerabat si
pembunuh.” [7] Hal ini ditegaskan kembali oleh Ibnu
Qudamah rahimahullah dalam
pernyataan beliau, “Kami
tidak mengetahui adanya
perbedaan pendapat bahwa
diyat ditanggung oleh kerabat si pembunuh.” [8] Demikianlah hukum dan
konsekuensi yang ada pada
pembunuhan mirip sengaja.
Hukum dan konsekuensi
tersebut mirip dengan yang
berlaku pada pembunuhan tidak disengaja. Oleh karena
itu, Syekh Ibnu Utsaimin
rahimahullah menyatakan,
“Pembunuhan tidak sengaja
memiliki persamaan dan
perbedaan dengan pembunuhan mirip sengaja,
dalam beberapa perkara: 1. Tidak adanya qishas pada
keduanya. 2. Diberlakukannya diyat pada
keduanya. 3. Diyat menjadi tanggungan
kerabat si pembunuh (al-
aqilah). Adapun kedua jenis
pembunuhan tersebut,
berbeda dalam perkara
berikut: 1. Pembunuhan mirip sengaja
(syibhu al-amd) bermaksud
mencelakai, sedangkan
pembunuhan tidak sengaja
(al-khatha) tidak bermaksud
membunuh sama sekali. 2. Diyat dalam pembunuhan
mirip sengaja (syibhu al-amd)
tergolong berat
(mughallazhah), sedangkan
dalam pembunuhan tidak
disengaja (al-khatha) diyatnya diperingan. 3. Dalam Pembunuhan mirip
sengaja (syibhu al-amd) ada
beban dosa, sedangkan dalam
pembunuhan tidak disengaja
(al-khatha) tidak ada beban
dosa.” [9] Penutup Dari keterangan di atas,
jelaslah persamaan dan
perbedaan antara
pembunuhan mirip sengaja
dengan pembunuhan yang
disengaja. Berikut ini adalah perbandingan kesamaan dan
perbedaan antara berbagai
jenis pembunuhan. Kesamaan antara
pembunuhan yang disengaja
dengan pembunuhan mirip
sengaja: 1. Adanya keinginan
mencelakakan korban. 2. Diyatnya berat. Perbedaan antara
pembunuhan yang disengaja
dengan pembunuhan mirip
sengaja: Pembunuhan yang disengaja: 1. Pembunuh sengaja
membunuh. 2. Alat yang digunakan
membunuh adalah senjata
pembunuh. 3. Diberlakukan qishas. 4. Diyat ditanggung oleh si
pembunuh. 5. Diyat dibayar kontan. 6. Tidak ada kafarat. Pembunuhan mirip sengaja: 1. Pembunuh sengaja mencelakai
tanpa bermaksud membunuh. 2. Alat yang digunakan
bukanlah senjata pembunuh. 3. Tidak diberlakukan qishas. 4. Diyat ditanggung oleh kerabat
si pembunuh. 5. Diyat dapat dibayar dalam
tempo tiga tahun. 6. Ada kafarat. Demikian juga, terdapat
kesamaan dan perbedaan
antara pembunuhan mirip
sengaja dengan pembunuhan
yang tidak disengaja. Kesamaan antara
pembunuhan mirip sengaja
dengan pembunuhan yan
tidak disengaja: 1. Tidak bermaksud membunuh. 2. Diyat ditanggung oleh kerabat
si pembunuh. 3. Diyat dibayar secara
bertempo. 4. Diwajibkan kafarat. 5. Tidak diberlakukan qishas. Perbedaan antara
pembunuhan mirip sengaja
dengan pembunuhan yang
tidak disengaja: Pembunuhan mirip sengaja: 1. Pembunuh bermaksud
mencelakakan korban. 2. Alat yang digunakan bukan
senjata pembunuh. 3. Diyatnya diperberat. Pembunuhan yang tidak
disengaja: 1. Pembunuh tidak ada maksud
mencelakakan korban. 2. Alat yang digunakan bisa jadi
berupa senjata pembunuh dan
bisa jadi tidak demikian. 3. Diyatnya diperingan. Demikianlah penjelasan
tentang jenis-jenis
pembunuhan yang ditetapkan
syariat Islam. Mudah-
mudahan bermanfaat. Wabillahit taufiq. Penulis: Ustadz Kholid
Syamhudi, Lc.
Artikel
www.EkonomiSyariat.com Referensi: 1. Muhammad bin Shalih Ibnu
Utsaimin, asy-Syarhu al-
Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’,
cetakan pertama, tahun 1428
H, Dar Ibnu al-Jauzi, KSA, 14/5. 2. Shalih bin Fauzan al-Fauzan,
Tashil al-Ilmam bi Fiqhi al-
Ahadits min Bulugh al-Maram,
cetakan pertama, tahun 1427
H, tanpa penerbit, 5/117. 3. Al-Mulakhash al-Fiqh, Shalih
bin Fauzan al-Fauzan, cetakan
pertama, tahun 1423 H, Ri’asah
Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah
wa al-Ifta’, KSA, 2/461. 4. Al-Irsyad ila Ma’rifat al-
Ahkam, Syekh Abdurrahman
as-Sa’di dalam al-Majmu’at al-
Kamilah li Mu’allafat asy-
Syekh Abdurrahman bin
Nashir as-Sa’di. 5. Al-Majmu’ Syarh al-
Muhadzdzab. 6. Lain-lain. === Catatan kaki: [1] Lihat al-Mulakhash al-Fiqh:
2/465 dan al-Majmu’ Syarh al-
Muhadzdzab: 20/417.
[2] Hr. Abu Daud no. 4547, an-
Nasa`i: 2/247, dan Ibnu Majah
no. 2627: lihat: Irwa’ al-Ghalil: 7/255–258, no.2197.
[3] Asy-Syarhu al-Mumti’:
14/5–6.
[4] Bidayatul Mujtahid: 2/486,
dinukil dari al-Mulakhkhash al-
Fiqh: 2/465. [5] Al-Irsyad ila Ma’rifat al-
Ahkam, Syekh Abdurrahman
as-Sa’di dalam al-Majmu’at al-
Kamilah li Mu’allafat asy-
Syekh Abdurrahman bin
Nashir as-Sa’di: 8/ 549. [6] Al-Mulakhkhash al-Fiqh:
2/466.
[7] Al-Ijma’ hlm. 172, dinukil
dari al-Mulakhkhash al-Fiqh:
2/466.
[8] Al-Mughni: 12/16. [9] Syarhu al-Mumti’ ‘ala Zad
al-Mustaqni’, Syekh
Muhammad bin Shalih
al-‘Utsaimin.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

3 tanggapan untuk "pembunuhan mirip sengaja"

Muhammad Basyir pada 08:37 AM, 12-Feb-12

wah..
nyimak aj.

saya pada 06:22 PM, 28-Feb-12

saya mau nanya, seandainya seorang anak membuat lubang dan memberitahu ayahnya untuk menghindarinya, dan ternyata ayahnya lupa llau masuk lubang sampai menyebabkan kematian, apakah anak masih dapat waris ? dasarnya apa ? dan apa akibatnya ? terimakasih

Ibnu lamin pada 06:23 PM, 01-Mar-12

@saya,
Bismillah was shallaatu
was salaamu ‘alaa rasuulillah, salah satu penghalang ahli waris untuk mendapatkan warisan adalah PEMBUNUHAN.
Hal ini berdasarkan hadits
dari Abdullah bin Amr bin
‘Ash, “Pembunuh tidak
mendapatkan warisan
sedikit pun” (HR. Nasai
dalam Sunan Al-Kubra
dan Al-Baihaqi dalam
Sunan Al-Kubra).

Namun sebagian ulama menyatakan bahwa hadis ini
statusnya mauquf, yaitu
perkataan Abdullah bin
Amr bin al-Ash radhiallahu
‘anhu dan bukan sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Sebagaimana
keterangan As-Shan’ani
dalam Subulus Salam
2:148.

Dan hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Rasullullah shallallahu 'alaihi wassalam , bahwa beliau bersabda

القا تل لا ير ث

'Orang yg membunuh tdk blh mjd ahli waris.' (shahih: Shahihul jami'us shaghir no: 4436, Irwa-ul Ghalil no: 1672, Tirmidzi III: 288 No.2192 dan Ibnu Majah II:883 No.2645 )

Sebagian ulama
menyatakan bahwa
aturan ini berlaku umum
untuk semua bentuk
pembunuhan, baik
pembunuhan DISENGAJA
maupun TIDAK DISENGAJA.
Keterangan ini
merupakan pendapat
Imam Abu Hanifah dan
Imam Asy-Syafi’i. (Subulus
Salam, 2:148 )
Allahu a’lam

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar